MERUYUNGAN

Rumah Resep Berlimpah Rempah

Masjid Kubah Mas Dian Al-Mahri, 2 Km dari Soto Betawi Meruyungan

Pada hari Minggu dan hari libur,  tamu rumah makan Soto Betawi MERUYUNGAN selalu dibanjiri oleh tamu  yang ingin berwisata melihat keindahan Masjid Dian Al Mahri yang lebih dikenal dengan nama Masjid Kubah Mas.

Lokasinya hanya kurang dari 2 km (sekitar 10 menit perjalanan mobil/motor) dari Rumah Makan MERUYUNGAN)

Berikut ini kami kutipkan tulisanlengkap beserta belasan koleksi foto yang disusun oleh website resmi Masjid Dian Al Mahri.

“Besar dan Megah” yang kemudian diterjemahkan menjadi konsep “ Monumental” adalah pemikiran awal mengenai arsitektur Masjid Dian Al-Mahri.

Monumental ini berarti bahwa suatu bangunan dapat mewakili suatu kebudayaan dalam era tertentu dan fisiknya harus bertahan dalam waktu yang lama.

Melihat kondisi di Indonesia, tantangan terbesarnya adalah iklim tropis, tingginya curah hujan, dan intensitas cuaca panas. Masjid ini membutuhkan ketinggian yang tidak biasa.

Maka pikiran para pencetus gagasan pun berputar-putar pada Masjid-masjid terbesar, seperti Masjid Nabawi di Madinah; Masjidil Haram di Mekah, Masjid Sultan Ahmet (Blue Mosque) di Istambul serta masjid-masjid megah lain yang banyak bertebaran di Asia Tengah dan memberikan pengaruh kuat pada arsitektur Masjid di belahan dunia lainnya.

 

Dimulai dari proses desain pada Desember 1998-Oktober 2000, Masjid Dian Al-Mahri yang memiliki luas 8000 m2 diresmikan pada 31 Desember 2006. Peresmian dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Shalat Idul Adha 1427 H, oleh pendiri Masjid, Ibu Hj.Dian Juriah Maimun Al-Rasyid dan Bapak Drs. H. Maimun Al Rasyid. Masjid yang lebih dikenal dengan sebutan Masjid Kubah Emas ini dibangun di atas lahan seluas 70 hektar di kelurahan Meruyung, Kecamatan Limo, Kota Depok.

Masjid ini merupakan bagian dari konsep pengembangan sebuah kawasan Islamic Center yang memfasilitasi kebutuhan setiap insan umat Islam akan sarana ibadah, dakwah, pendidikan, dan sosial.

Pembangunan Masjid dimulai pada April 1999 yang ditandai dengan pemasangan tiang pancang pertama oleh pendiri masjid.

Arsitektur

Bangunan utama Masjid sangat terpengaruh desain Masjid Nabawi, meski secara umum arsitekturnya mengikuti tipologi masjid yang bercirikan kubah, minaret, halaman dalam, dan penggunaan detil-detil dekoratif.

Selasar, enam minaret, lima kubah, dan tiga pintu masuk masjid terinspirasi dari arsitektur “Mughal”, sedangkan gapura utamanya mengambil nuansa dari Masjid Al-Aqsa.

Mengantisipasi tantangan iklim dan cuaca di Indonesia, material yang digunakan harus memiliki ketahanan kuat. Seluruh permukaan bangunan terdiri dari dua lapisan, yaitu batu granit untuk membalut seluruh permukaan luarnya, serta marmer untuk ruang dalamnya. Bahan-bahan ini didapat dari berbagai daerah di Italia, Turki, Spanyol, Brazil.

Unsur-unsur arsitektur tersebut diharapkan dapat membawa pengunjung Masjid merasakan keagungan, kebesaran dan keindahan Islam yang terwujud dalam arsitekturnya.

Halaman dalam masjid berukuran 40×60 m dan dapat menampung sekitar 8000 jemaah. Di kedua sisinya, sisi utara dan selatan, terdapat dua gerbang masuk. Gerbang utama terletak di sisi timur yang berhubungan langsung dengan halaman dalam. Tiga sisi halaman dalam dibatasi selasar dengan deretan pilar-pilar berbalut batu granit dari Brazil. Pilar-pilar tersebut membentuk deretan arcade yang menjadi pembatas halaman dalam ini.

Halaman dalam pada saat-saat tertentu, seperti saat Idul Fitri dan hari Jumat, dapat digunakan sebagai perluasan ruang shalat ataupun berfungsi untuk kegiatan lainnya, seperti Manasik Haji.

Tempat wudhu terletak di kedua sisi bangunan dengan beratapkan kubah berlapis mozaik dan terawangan mukharabish.

Enam minaret berbentuk segi enam melambangkan Rukun Iman. Minaret ini menjulang setinggi 40 M ke angkasa, dibalut granit abu-abu dari Itali dengan ornamen melingkar. Terdapat kubah berlapis mozaik emas 24 karat pada puncaknya.

Portal berupa gerbang masuk dan hiasan geometris dan obelisk adalah salah satu ciri lainnya.

Bentuk kubah masjid mengacu pada kubah masjid-masjid di Persia dan India, dengan ciri menjulang ke atas dan memberikan kesan dominan sebagai elemen arsitektur. Jumlah lima kubah melambangkan rukun Islam. Seluruh kubah dibalut mozaik berlapis emas 24 karat yang material dan tenaga pemasangannya didatangkan khusus dari Italia.

Jika dilihat dari bagian dalam masjid, langit-langit kubah merepresentasikan langit sebenarnya yang warnanya dapat berubah di waktu-waktu sholat. Hal ini dimungkinkan dengan penggunaan teknologi tata cahaya yang diprogram dengan bantuan komputer.

Pada dasar kubah terdapat cincin dengan aksen warna emas, seolah menjadi batas cakrawala. Diatasnya terdapat 33 jendela yang masing-masing diisi dengan kaligrafi tiga nama Allah SWT, sehingga seluruhnya berjumlah 99. Pada puncak langit-langit terdapat kaligrafi shalawat yang terbuat dari lempengan kuningan berlapis emas.

Anggun dan menarik, di tengah kubah tergantung lampu kristal yang serupa dengan lampu di Masjid Sultan Oman. Berat lampu kristal ini mencapai 2.7 ton, dengan rangka terbuat dari kuningan berlapis emas 24 karat.

Demi menghadirkan skala ruang yang agung, dibuatlah pilar-pilar kokoh yang menjulang tinggi. Mereka yang berada di dalamnya akan merasa kecil, sehingga membangkitkan suasana tawadlu. Ruangan masjid didominasi warna-warna senada pada dinding dan penggunaan warna hitam.Unsur warna krem digunakan untuk memberi nuansa tenang dan hangat; marmer berwarna hitam adalah untuk mendapatkan unsur sakral; serta warna emas adalah untuk nuansa keindahan dan kekuatan. Material marmer dipilih karena mendukung efek psikologis yang diinginkan.

Lingkungan Masjid Dian Al-Mahri dirancang untuk menghadirkan kesejukan dan keteduhan bagi setiap muslim yang beribadah. Maka ditempatkanlah taman-taman yang mengitari Masjid untuk menciptakan suasana berbeda di setiap sudut pandangnya.

 

Profil Konsultan Arsitektur Masjid Ir. Uke G Setiawan

Keterlibatan Uke G.Setiawan di dunia desain adalah sejak bergabung dengan konsultan arsitektur dan interior, PT. Graha Cipta Hadiprana, pada 1988 – 1994. Mulai tahun 1995, Uke mendirikan firma sendiri bernama PT. Garisprada. Ketertarikannya pada bidang desain berawal sejak masih duduk di bangku SMP.

Uke mendapat amanah mendesain Islamic Center Dian Al-Mahri beberapa hari setelah menjalani operasi bedah jantung di Australia. “Ibu mau bangun masjid yang besar dan megah.” Itulah kata-kata awal Ibu Hj. Dian Juriah Maimun Al-Rasyid yang menjadi bekal Uke dalam proses desain Masjid yang menjadi ikon Islamic Center tersebut.

Ke depan, Uke berharap Masjid Dian Al – Mahri mampu memberikan warna bagi perkembangan arsitektur Masjid di Indonesia, serta cita – cita untuk memancarkan cahaya Islam dalam syiarnya dapat terwujud dan terlaksana dan dapat diterima oleh masyarakat luas, khususnya umat Islam

NASIHAT PENTING UNTUK KAUM MUSLIMIN :

Perjalanan jauh atau safar dilarang bila ditujukan/diniatkan untuk mencari berkah atau ibadah di tempat tertentu, yang semata-mata (tujuan utama perjalanan tersebut) ditujukan ke tempat tersebut.  Semua perjalanan yang dilakukan dengan niat tersebut adalah haram, kecuali ke Masjidil Haram, Masjid Nabawi atau Masjidil Aqsha.  Sedangkan safar yang dilakukan tanpa niat ibadah (misalkan sekedar ingin berwisata) di tempat tertentu (misalnya ke Masjid Kubah Mas Dian Al Mahri) tidaklah termasuk dalam hadits dibawah ini, akan tetapi hukumnya tergantung tujuan safar itu sendiri, sebab pada dasarnya safar adalah sesuatu yang dibolehkan dalam agama.

Rasulullah shalallahu alahi wassalam bersabda:

“Dan tidak boleh syaddur rihal (perjalanan jauh yang bertujuan ibadah, red) kecuali tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsha, dan masjidku.” (HR. Al-Bukhari no. 1132 dari Abu Sa’id Al-Khudri z dan Muslim No. 1397 dari Abu Hurairah radyallahu anhu)

Kata syaddur rihal adalah istilah agama yang memiliki makna mempersiapkan dengan matang untuk melakukan sebuah safar/ perjalanan. Hikmah dilarangnya perjalanan ibadah (syaddur rihal)  adalah menghindarkan terjadinya kesyirikan dan berbagai kerusakan lainnya, seperti menjadikannya sebagai ied (dikunjungi secara rutin), atau menumbuhkan  sikap ghuluw (berlebihan) serta melampaui batas dalam memuji.

Dalam contoh dimana seseorang melakukan perjalanan jauh dari suatu kota, misalnya Bandung  menuju Jakarta untuk urusan keluarga atau bisnis, dan kemudian ia meniatkan di sela waktunya untuk mengunjungi Masjid Kubah Mas disekitar Jakarta, maka untuk ini tidaklah mengapa karena niat pokoknya melakukan safar ini adalah untuk keperluan keluarga atau bisnis.

Walahu ‘alam bish shawab.

 

 

Sumber : http://www.kubah-emas.com/index.php?option=com_content&view=article&id=8&Itemid=2

soto betawi paling enak se jakarta

soto betawi paling lezat di jakarta

soto betawi paling sedap di jakarta

soto betawi paling mantap di jakarta

soto betawi paling enak di jakarta

No comments yet»

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: